Surat Terbuka untuk Manajer Persib [Umuh Muchtar]

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Salam sejahtera bagi kita semua!

Sebelumnya saya mohon maaf telah berlancang lajak mengirim surat terbuka ini. Bukan apa-apa, lajak saya ini semata-mata didasari atas keinginan melihat tim kesayangan kita semua Persib Bandung beranjak ke posisi yang lebih baik.

Yang Terhormat Manajer Persib Haji Umuh Muchtar! Saya dan banyak orang sudah tahu bagaimana sepak terjang Anda sejak menjadi bobotoh sampai sekarang menduduki jabatan penting di Persib. Kebetulan — seperti halnya jutaan warga Bandung dan Jawa Barat lainnya — saya mengamati dengan saksama apa yang terjadi dengan Persib belakangan ini.

Terus terang, saya sendiri tak habis mengerti ketika muncul coretan-coretan bernada menghujat Pak Haji di sejumlah tempat di Bandung, sampai kemudian puncaknya terjadi demonstrasi bobotoh di Stadion Siliwangi yang menuntut Pak Haji mundur. Padahal, yang saya tahu komitmen Pak Haji buat Persib sudah tidak diragukan lagi. Jika Pak Haji selama ini senantiasa beraku bahwa Pak Haji telah mencurahkan segala yang dimiliki — mulai dari waktu, materi, pikiran, bahkan privasi — demi Persib, itu saya sangat-sangat percaya. Dan itu pula yang selama ini menjadi nilai plus Pak Haji. Oleh karena itu, kita sebagai bobotoh wajib memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Namun demikian, semua itu rasanya tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak bersikap kritis terhadap manajemen Persib. Terus terang, saya agak kurang sreg ketika Pak Haji bersikap emosional dengan berniat menuntut salah seorang pentolan kelompok suporter ke meja hijau, terkait dengan demonstrasi tempo hari. Walaupun itu adalah hak pribadi Pak Haji sebagai warga negara.

Satu hal yang perlu diingat. Apa yang dilakukan bobotoh dengan melakukan corat-coret dan kemudian berdemo, itu adalah hal yang masih patut dianggap wajar dilakukan suporter sepakbola mana pun. Bahkan jika Pak Haji mencermati kelakuan suporter luar negeri dalam mengekspresikan kekecewaan bilamana tim kesayangannya menunjukkan performa buruk, jauh lebih parah lagi. Ingat kejadian ditembaknya Andres Escobar setelah melakukan gol bunuh diri di Piala Dunia 1994. Atau pelemparan telur busuk terhadap mobil pemilik Liverpool terdahulu, George Gillet. Bahkan seorang manajer Persib terdahulu pun, pernah dihujat dengan kata-kata (maaf) goblog!

Jika selama ini muncul ungkapan kekecewaan terhadap Pak Haji, saya kira juga merupakan hal yang wajar. Ingat, Persib sudah 18 tahun tidak mencecap gelar juara. Jadi, siapa pun yang ada di tim (baik pelatih, pemain, manajer, dan lain-lain) pasti akan mendapat tekanan besar bilamana prestasi yang diharapkan itu tidak kunjung datang. Apalagi selama Pak Haji jadi manajer selama kurun waktu tiga tahun belakangan, prestasi Maung Bandung juga tidak bisa dikatakan baik. Ingat, satu-satunya parameter baik di sini adalah gelar juara. Sebab, Persib adalah tim dengan kapasitas juara sehingga menduduki peringkat runner-up di akhir kompetisi pun masih dianggap gagal.

Mari kita sedikit surut waktu ke belakang menyoal kinerja beberapa Ketua Umum Persib di masa silam. Mulai dari Ateng Wahyudi sampai Dada Rosada. Ateng Wahyudi (Ketua Umum Persib 1985-1993) dan Wahyu Hamijaya (Ketua Umum Persib 1993-1998) pasti akan dikenang sebagai pemimpin yang berhasil, lantaran di masa beliau Persib pernah mengecap gelar juara.

Tapi sebaliknya, seberapa pun jasa yang telah diberikan Aa Tarmana dan Dada Rosada, keduanya tidak akan dikenang sebagai Ketua Umum yang sukses. Sebab, selama dipimpin mereka, Persib tidak pernah meraih gelar juara. Baik Pak Aa Tarmana maupun Pak Dada Rosada hanya akan dikenang sebagai Ketua Umum yang memiliki komitmen tinggi terhadap Persib. Titik!

Demikian halnya dengan Pak Haji. Jika selama ini Pak Haji selalu menyebut-nyebut bahwa telah mengeluarkan uang pribadi, menyisihkan waktu siang-malam, itu semua tidak akan jadi kenangan abadi dalam sejarah Persib. Sebab buktinya, selama tiga tahun dipimpin Pak Haji, Maung Bandung tidak meraih gelar juara.

Belakangan ini Pak Haji berniat menuntut seorang pentolan kelompok suporter ke pengadilan. Maaf beribu maaf, saya kira tindakan ini hanya akan melunturkan jasa yang telah diberikan Pak Haji buat Persib. Alih-alih mengadukan pentolan kelompok suporter tersebut, saya kira lebih baik Pak Haji introspeksi diri. Bukankah tidak pernah ada sejarahnya seorang manajer Persib sampai dijadikan bahan coret-coret di dinding-dinding kota. Jika kemudian bobotoh sampai harus mengekspresikan kekecewaannya dengan cara corat-coret di dinding, itu berarti memang ada yang salah di manajemen Persib. Ataukah memang iklim kehidupan kita sekarang sudah kembali beralih seperti jaman Orde Baru. Ekspresi dibungkam. Yang tetap ngotot berekspresi, lantas dipenjarakan!

Terakhir, ada dua langkah yang bisa ditempuh jika tidak ingin dihujat bobotoh. Pertama, jangan pernah mau jadi pemain, pelatih, atau manajer Persib. Kedua, berikan gelar juara!

Sekali lagi mohon maaf atas kelancanglajakan ini!

Hatur nuhun!

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!

Aang
seorang bobotoh kampring

 

tambahan dari saya : MST wa haji !!!

About izalcyber

Analis Kesehatan Bandung, Jurnalis, Viking Persib

Posted on 9 Mei 2012, in Viking Persib Club and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: